TIMES JEPARA, JAKARTA – Isu keselamatan otak dalam sepak bola kini memasuki babak baru. Professional Footballers’ Association (PFA) atau serikat pemain sepak bola Inggris, mengumumkan protokol komprehensif pertama untuk mencegah chronic traumatic encephalopathy (CTE), penyakit degeneratif otak yang selama ini identik dengan olahraga benturan keras, namun kini dikaitkan pula dengan aktivitas heading.
Dalam panduan yang akan diumumkan Selasa (2/2/2026) waktu setempat, PFA merekomendasikan pembatasan maksimal 10 kali heading per pekan bagi pemain profesional, termasuk saat latihan. Lebih jauh, anak-anak di bawah usia 12 tahun dilarang melakukan heading sama sekali. Kebijakan ini berlaku bagi pemain yang berada di bawah naungan Premier League, FA Women’s Super League, dan English Football League.
Tidak Hanya di Sepak Bola
Langkah ini menandai pergeseran paradigma: dari fokus semata pada gegar otak (concussion), menuju pengakuan atas bahaya pukulan ringan berulang (subconcussive impacts) yang selama ini dianggap sepele. “CTE bisa dicegah. Titik,” ujar Adam White, Direktur Kesehatan Otak PFA, saat berbicara di Global CTE Summit di San Francisco.
Menurut White, prinsip pencegahan CTE sederhana namun krusial: lebih sedikit heading, dengan gaya lebih ringan, frekuensi lebih jarang, dan dimulai lebih lambat dalam usia atlet. Ia menegaskan, pendekatan ini relevan untuk berbagai cabang olahraga, bukan hanya sepak bola.
CTE sendiri bukan penyakit baru. Ia pertama kali diteliti lebih dari seabad lalu pada petinju dengan istilah punch drunk syndrome, dan secara resmi terdiagnosis pada pemain football Amerika pada 2005. Sejak itu, kekhawatiran meluas ke hoki es, sepak bola, hingga militer—kelompok dengan paparan benturan kepala berulang.
Sejumlah data memperkuat urgensi kebijakan ini. Studi pada 2017 menemukan CTE pada 110 dari 111 otak mantan pemain NFL yang didonorkan untuk penelitian. Di sepak bola Inggris dan Skotlandia, riset yang didanai PFA dan Football Association menunjukkan risiko demensia pada pesepak bola profesional Skotlandia 3,5 kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Pemeriksaan otak mantan pemain Inggris juga menemukan CTE pada mayoritas sampel, termasuk Jeff Astle dan Gordon McQueen.
Chris Nowinski, pendiri Concussion and CTE Foundation, menyebut protokol PFA sebagai terobosan penting. Menurutnya, pencegahan CTE sama—bahkan lebih—penting dibanding protokol penanganan gegar otak yang selama ini diterapkan berbagai liga olahraga.
“Bukti ilmiah sudah sangat kuat: semakin banyak benturan kepala, semakin besar risiko CTE,” kata Nowinski. Ia menilai kebijakan olahraga selama ini kerap mengorbankan kesehatan jangka panjang atlet, sementara beban terberat justru dipikul keluarga mereka. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Asosiasi Pemain Inggris Batasi Heading Demi Cegah CTE pada Pemain Sepak Bola
| Pewarta | : Wahyu Nurdiyanto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |